Kebumen, 03 Juni 2018
Aku sudah menikah dan dikaruniai satu jagoan hebat yang aku beri nama Nazran Raziq Hanan, sebagai seorang guru swasta yang penghasilan jauh di bawah upah UMK aku harus terus memeras otak agar aku bisa mampu bertahan menjadi seorang pengajar karena penghasilan yang saya terima sebagai seorang pengajar di sebuah Madrasah Ibtidaiyah/setingkat SD hanya bisa untuk membayar listrik satu bulan dan membeli susu anak.
Aku sudah menikah dan dikaruniai satu jagoan hebat yang aku beri nama Nazran Raziq Hanan, sebagai seorang guru swasta yang penghasilan jauh di bawah upah UMK aku harus terus memeras otak agar aku bisa mampu bertahan menjadi seorang pengajar karena penghasilan yang saya terima sebagai seorang pengajar di sebuah Madrasah Ibtidaiyah/setingkat SD hanya bisa untuk membayar listrik satu bulan dan membeli susu anak.
Beruntungnya aku mempunyai
seorang istri yang notebene berprofesi sama dengan saya yaitu seorang guru tapi
di TK, mungkin jika jodoh saya bukan seorang guru dia akan berontak dengan
penghasilan saya yang masih kalah jauh dengan gaji kuli bangunan di desa saya. Jika
dihitung, gaji kuli bangunan sehari adalah Rp. 80.000,- x 26 hari maka dua juta
lebih, sementara angka gaji saya belum menyentuh satu juta. Tapi saya sangat bersyukur karena walaupun penghasilan yang saya terima di bawah mereka tapi rutin tiap bulan saya terima tidak seperti kuli bangunan yang kadang-kadang bekerjanya.
Ketika masih muda dan belum
berkeluarga komitmen untuk berjuang membangun desa masih sangat kuat, dan masih
belum memikirkan gaji yang tidak seberapa tetapi komitmen itu lama kelamaan
tergerus oleh berbagai masalah ekonomi sehingga memang saya akui sangat berat
kalau saya bekerja seperti ini, saya adalah kepala keluarga yang secara
kewajiban adalah memenuhi semua kebutuhan keluarga tetapi penghasilan saya
masih sangat jauh dari kata cukup,beruntung saya masih tinggal bersama kedua
orang tua sehingga untuk makan sehari-hari saya tidak perlu membeli beras
karena kebetulan orang tua masih punya sepetak sawah. Saya membayangkan jika
sampai sepuluh tahun lagi keadaan saya masih seperti ini dan anak sudah mulai
bersekolah, akankah saya mampu menyekolahkan anak saya? Sangat miris, kalau seorang guru tidak mampu menyekolahkan anaknya sendiri hanya karena
terkendala biaya.
Saya sekarang sedang berada
di persimpangan jalan, saya harus memilih jalan mana yang harus saya ambil,
tetap mengabdi dan berjuang demi mencerdaskan anak-anak indonesia atau pilih
banting setir mencari penghasilan yang lebih guna menyiapkan modal untuk bisa
menyekolahkan anak sendiri, jika dihitung anak saya Januari 2018 ulang tahun
yang ke tiga, jelas beberapa tahun lagi akan memulai jenjang pendidikan formal
seperti PAUD, TK dan MI
Simpanan yang saya miliki adalah
sebuah kesabaran, harapan dan do’a semoga kehidupanku bisa lebih baik dan bisa
menyekolahkan anak, membahagiakan keluarga dan kedua orang tuaku yang masih
hidup bersamaku, dan selalu menyayangiku...
Walaupun mereka sudah tua dan sering sakit-sakitan aku tidak masalah, itu sama sekali tidak membebaniku... karena mungkin inilah saatnya saya membalas mereka dalam merawat dan mengasuhku hingga aku dewasa seperti saat sekarang ini
Walaupun mereka sudah tua dan sering sakit-sakitan aku tidak masalah, itu sama sekali tidak membebaniku... karena mungkin inilah saatnya saya membalas mereka dalam merawat dan mengasuhku hingga aku dewasa seperti saat sekarang ini
Maafkan aku wahai orang tuaku
Aku belum bisa menjadi jagoan
yang kalian harapkan
Aku sudah menjadi orang tua
tetapi belum bisa membahagiakan Engkau,
Aku baru bisa memberi hadiah do’a
Do’a agar engkau selalu sehat dan
bahagia
Belum yang lainnya, seperti yang
dilakukan oleh
Saudara-saudaraku yang lebih
beruntung
Untuk urusan material mungkin aku
belum mampu
Tapi percayalah, aku yang akan
merawatmu
Memapahmu jika engkau terjatuh
Aku akan terus tinggal di rumah
ini bersamamu
Untuk merawatmu, bukan untuk
menyusahkanmu...
Ini janjiku pada kalian...
I love you
(
(
No comments:
Post a Comment